Dari Kapal Romawi, Dark Matter, Neutrino, sampai kepada Kristus Sang Logos
Ayat utama:
“Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan.”
— Roma 1:20
Ayat pendukung: Yohanes 1:1–3; Kolose 1:16–17; Ibrani 11:1–3; 2 Korintus 5:7; Mazmur 19:2.
BENDA YANG TIDAK DIKETAHUI NILAINYA
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Bayangkan sebuah kapal dagang Romawi berlayar di Laut Mediterania sekitar dua ribu tahun yang lalu.
Tidak ada komputer.
Tidak ada teleskop luar angkasa.
Tidak ada laboratorium fisika partikel.
Tidak ada teori relativitas.
Tidak ada mekanika kuantum.
Para pelaut Romawi hanya membawa barang dagangan.
Salah satu muatannya adalah batangan-batangan timbal.
Tetapi kemudian kapal itu tenggelam.
Tahun berganti.
Abad berganti.
Kekaisaran Romawi runtuh.
Bahasa berubah.
Bangsa-bangsa berubah.
Peradaban berubah.
Tetapi batangan timbal itu tetap berada di dasar laut.
Dua ribu tahun kemudian manusia menemukannya.
Dan sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi.
Timbal kuno tersebut ternyata memiliki karakteristik yang sangat menarik bagi fisikawan modern karena radioaktivitas latar belakangnya sangat rendah.
Mengapa penting?
Karena manusia modern sedang melakukan sesuatu yang luar biasa:
mencari sesuatu yang tidak dapat dilihat.
Mencari neutrino.
Mencari proses nuklir yang sangat langka.
Mencari kandidat dark matter.
Dan untuk melakukan itu, para ilmuwan membutuhkan lingkungan yang sangat “sunyi”.
Mereka bahkan membangun laboratorium jauh di bawah gunung.
Di sana, mereka mencoba mengurangi gangguan dari sinar kosmik dan radioaktivitas.
Dan sebagian material yang membantu membuat “perisai” itu berasal dari masa lalu.
Timbal Romawi.
Bukankah ini luar biasa?
Benda yang dibuat manusia dua ribu tahun lalu untuk perdagangan…
dipakai manusia modern dalam usaha memahami struktur terdalam alam semesta.
Tetapi hari ini kita tidak hanya akan berbicara tentang timbal.
Kita akan berbicara tentang sebuah pertanyaan:
Mengapa alam semesta begitu teratur sehingga manusia dapat menyelidikinya?
KITA HIDUP DI DALAM ALAM SEMESTA YANG JAUH LEBIH BESAR DARIPADA YANG KITA LIHAT
Saudara,
mata kita hanya menangkap bagian yang sangat kecil dari realitas.
Kita melihat manusia.
Kita melihat pohon.
Kita melihat gunung.
Kita melihat bintang.
Tetapi ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa realitas jauh lebih dalam daripada apa yang dapat ditangkap oleh indera.
Ada dunia atom.
Ada partikel subatomik.
Ada neutrino.
Ada radiasi.
Ada medan.
Ada struktur galaksi.
Dan ada sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami:
dark matter.
Kita tidak melihat dark matter secara langsung.
Tetapi para ilmuwan melihat efek gravitasinya.
Di sinilah kita belajar sesuatu:
Tidak melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Tetapi kita juga harus berhati-hati.
Dalam sains, sesuatu tidak diterima hanya karena tidak terlihat.
Ia harus memiliki bukti dan konsekuensi yang dapat diuji.
Ini penting dalam iman Kristen juga.
Iman Kristen bukan:
“Saya percaya karena saya tidak mau berpikir.”
Sebaliknya.
Iman Kristen mengundang manusia untuk berpikir.
Untuk menyelidiki.
Untuk bertanya.
Untuk mencari kebenaran.
DUNIA YANG TIDAK TERLIHAT
Perhatikan Ibrani 11:3:
“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah…”
Perhatikan kata:
Firman.
Dalam bahasa Yunani:
Logos.
Dan Yohanes membuka Injilnya dengan kalimat yang sangat dalam:
“Pada mulanya adalah Firman…”
Bukan sekadar kata.
Bukan sekadar suara.
Tetapi Logos.
Yohanes kemudian berkata bahwa Logos itu bersama-sama dengan Allah dan Logos itu adalah Allah.
Dan kemudian:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia…”
Di sini Kekristenan menyatakan sesuatu yang luar biasa:
Alam semesta bukanlah realitas terakhir.
Alam semesta memiliki sumber.
Dan sumber itu bukan sekadar energi impersonal.
Menurut Yohanes:
Logos itu adalah Kristus.
KETIKA FISIKAWAN MASUK KE DALAM GUNUNG
Sekarang bayangkan Gran Sasso.
Gunung besar.
Di bawahnya terdapat laboratorium.
Mengapa harus masuk ke bawah gunung?
Karena manusia sedang mencoba menghilangkan gangguan dari dunia luar.
Bayangkan seorang ilmuwan ingin mendengar suara yang sangat kecil.
Ia masuk ke ruangan.
Menutup pintu.
Mematikan mesin.
Mengurangi getaran.
Mengurangi radiasi.
Mengurangi gangguan.
Mengapa?
Karena sinyal yang ingin dicari sangat lemah.
Demikian pula eksperimen fisika partikel.
Kadang-kadang manusia harus masuk jauh ke dalam bumi untuk mendengarkan sesuatu yang sangat kecil.
Saya ingin menggunakan ini sebagai gambaran rohani.
Kita hidup dalam dunia yang sangat bising.
Bising oleh:
- ambisi,
- uang,
- ketakutan,
- media sosial,
- konflik,
- ego,
- popularitas,
- kesibukan,
- kecemasan.
Kadang-kadang kita begitu sibuk mendengarkan dunia sehingga kita tidak pernah mendengar suara Tuhan.
Maka Yesus berkata:
“Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!”
— Markus 6:31
Ada waktunya kita harus keluar dari kebisingan.
Bukan karena Tuhan tidak berbicara.
Tetapi karena kita terlalu berisik untuk mendengar.
TIMBAL ROMAWI: HADIAH DARI MASA LALU
Sekarang kembali kepada kapal Romawi.
Para pelaut itu tidak pernah membayangkan bahwa batangan-batangan timbal mereka suatu hari akan membantu eksperimen fisika modern.
Mereka hanya membawa barang dagangan.
Tetapi sejarah menyimpan sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Dan ini mengingatkan kita:
Manusia tidak selalu mengetahui nilai sesuatu pada saat pertama kali melihatnya.
Ada orang yang melihat dirinya sendiri dan berkata:
“Saya tidak berguna.”
Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang berbeda.
Ada orang berkata:
“Masa lalu saya sudah rusak.”
Tetapi Tuhan berkata:
“Aku masih dapat menggunakan hidupmu.”
Ada orang merasa:
“Saya terlalu tua.”
Tetapi Tuhan tidak dibatasi umur.
Ada orang merasa:
“Saya terlalu berdosa.”
Tetapi kasih karunia Allah lebih besar daripada masa lalu kita.
Timbal Romawi menjadi ilustrasi:
Nilai sesuatu tidak selalu terlihat dari keadaan permukaannya.
MISTERI DARK MATTER
Sekarang kita masuk lebih dalam.
Salah satu misteri besar kosmologi adalah dark matter.
Para ilmuwan mengetahui bahwa ada sesuatu yang memberikan efek gravitasi pada struktur kosmik.
Tetapi kita belum mengetahui secara pasti:
Apa sebenarnya dark matter itu?
Ini salah satu frontier ilmu pengetahuan.
Manusia telah mengirim teleskop ke luar angkasa.
Membangun detektor.
Membuat laboratorium bawah tanah.
Mendinginkan instrumen.
Mencari partikel.
Mengumpulkan data.
Menghilangkan noise.
Dan sampai hari ini, misteri itu belum selesai.
Dan bagi saya ada pelajaran yang sangat indah:
Ilmu pengetahuan yang sehat tidak takut mengatakan: “Kami belum tahu.”
Saudara,
kalimat:
“Saya belum tahu.”
bukan tanda kebodohan.
Kadang-kadang itu justru tanda kerendahan hati intelektual.
JANGAN MENJADIKAN MISTERI SAINS SEBAGAI “BUKTI TUHAN”
Di sini kita harus dewasa.
Ada kesalahan yang sering terjadi dalam apologetika.
Ketika sains menemukan sesuatu yang belum diketahui, orang langsung berkata:
“Nah! Itu pasti Tuhan!”
Kita harus hati-hati.
Karena jika suatu hari sains menemukan penjelasan natural mengenai fenomena tersebut, iman kita seolah-olah ikut runtuh.
Itu bukan fondasi iman yang kuat.
Kita tidak perlu menggunakan:
“God of the gaps.”
Tuhan bukan sekadar jawaban untuk bagian-bagian yang belum dijelaskan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya:
Tuhan adalah dasar keberadaan seluruh realitas.
Kalau besok ilmuwan menemukan apa sebenarnya dark matter…
Tuhan tidak menjadi lebih kecil.
Kalau manusia menemukan planet baru…
Tuhan tidak menjadi lebih kecil.
Kalau manusia memahami mekanisme suatu penyakit…
Tuhan tidak menjadi lebih kecil.
Kalau manusia menemukan hukum fisika baru…
Tuhan tidak menjadi lebih kecil.
Karena:
Allah bukan pesaing ilmu pengetahuan.
ALAM SEMESTA DAN LOGOS
Sekarang kita kembali kepada Yohanes 1.
“Pada mulanya adalah Logos.”
Ini luar biasa.
Karena Yohanes tidak memulai Injilnya dengan:
“Pada mulanya ada gereja.”
Bukan.
Ia tidak mulai dengan:
“Pada mulanya ada agama.”
Ia berkata:
“Pada mulanya adalah Logos.”
Kemudian:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia…”
Dan kemudian Logos itu menjadi manusia.
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita…”
Di sinilah iman Kristen menjadi sangat unik.
Logos bukan hanya prinsip abstrak.
Logos bukan sekadar hukum alam.
Logos bukan sekadar konsep filosofis.
Logos menjadi manusia.
Logos masuk ke dalam sejarah.
Logos datang dalam pribadi Yesus Kristus.
DARI PLATO, YOHANES, SAMPAI KRISTUS
Dalam sejarah filsafat Yunani, konsep Logos memiliki sejarah panjang.
Para filsuf berbicara tentang rasionalitas, keteraturan dan prinsip yang mendasari realitas.
Tetapi Yohanes melakukan sesuatu yang sangat radikal.
Ia berkata:
Logos itu bukan hanya konsep.
Logos memiliki identitas.
Dan Logos itu adalah Kristus.
Jadi ketika seorang Kristen melihat keteraturan alam semesta, kita tidak berhenti pada:
“Wow, alam semesta sangat indah.”
Kita bertanya lebih dalam:
Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada apa-apa?
Mengapa alam semesta dapat dipahami oleh pikiran manusia?
Mengapa hukum-hukum alam memiliki keteraturan?
Mengapa matematika begitu efektif dalam menggambarkan realitas?
Dan kemudian kita kembali kepada Yohanes:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.”
DARI DASAR LAUT KE DASAR REALITAS
Sekarang saya ingin membawa saudara kembali kepada kapal Romawi.
Bayangkan kamera bergerak.
Dari permukaan Laut Mediterania…
turun ke dasar laut…
menemukan kapal tua…
menemukan batangan timbal…
kemudian berpindah ke laboratorium…
masuk ke bawah gunung…
menuju detektor…
dan kemudian kamera seolah-olah menembus materi…
atom…
partikel…
dan akhirnya kita menatap langit malam.
Lalu muncul pertanyaan:
Seberapa dalam sebenarnya realitas ini?
Kita menggali laut.
Kita menggali gunung.
Kita membelah atom.
Kita mengamati galaksi.
Kita mengirim teleskop ke ruang angkasa.
Tetapi semakin manusia menyelidiki, semakin kita menyadari:
masih banyak yang belum kita ketahui.
Mazmur 19 berkata:
“Langit menceritakan kemuliaan Allah…”
Langit bukan Allah.
Bintang bukan Allah.
Dark matter bukan Allah.
Neutrino bukan Allah.
Alam semesta bukan Allah.
Tetapi semuanya dapat menjadi jendela yang mengarahkan pikiran kita kepada Sang Pencipta.
IMAN BUKAN BERARTI BERHENTI BERPIKIR
Ada orang berkata:
“Kalau saya sudah beriman, saya tidak perlu berpikir.”
Tidak!
Kekristenan tidak mengajarkan anti-intelektualisme.
Yesus berkata:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
— Matius 22:37
Akal budi juga harus dikasihi Tuhan.
Kita boleh belajar fisika.
Boleh belajar kosmologi.
Boleh belajar sejarah.
Boleh membaca filsafat.
Boleh mempelajari filsafat Yunani.
Boleh mempelajari ilmu saraf.
Boleh bertanya tentang alam semesta.
Boleh mengatakan:
“Saya tidak tahu.”
Dan tetap percaya kepada Kristus.
Iman dan intelektualitas bukan musuh.
Yang menjadi musuh adalah kesombongan.
Kesombongan ilmiah berkata:
“Yang tidak bisa saya ukur berarti tidak ada.”
Kesombongan religius berkata:
“Saya sudah tahu semuanya sehingga tidak perlu belajar.”
Keduanya berbahaya.
Orang percaya seharusnya memiliki:
iman yang rendah hati dan pikiran yang ingin belajar.
ADA YANG LEBIH DALAM DARIPADA DARK MATTER
Saudara,
dark matter adalah sebuah misteri.
Tetapi ada misteri yang jauh lebih dekat dengan kita.
Misteri manusia.
Mengapa manusia mencari makna?
Mengapa manusia mencintai?
Mengapa manusia merasa bersalah?
Mengapa manusia mencari keadilan?
Mengapa manusia merindukan kekekalan?
Mengapa manusia takut kematian?
Mengapa manusia mencari Tuhan?
Alkitab memberikan jawaban yang sangat dalam.
Pengkhotbah 3:11 berkata:
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.”
Mungkin masalah manusia bukan hanya karena kita ingin mengetahui:
“Apa yang ada di luar sana?”
Tetapi juga:
“Siapa saya?”
“Mengapa saya ada?”
“Untuk apa saya hidup?”
“Ke mana saya pergi setelah kematian?”
Dan ilmu pengetahuan, sehebat apa pun, tidak dirancang untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut.
Di sinilah Injil berbicara.
KRISTUS ADALAH PUSATNYA
Kolose 1:16–17 berkata bahwa segala sesuatu telah diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Kemudian Paulus berkata:
“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”
Ini luar biasa.
Kristus bukan hanya tokoh sejarah.
Bukan hanya guru moral.
Bukan hanya nabi.
Dalam kesaksian Perjanjian Baru:
Kristus adalah pusat ciptaan.
Dari atom sampai galaksi.
Dari ruang sampai waktu.
Dari materi sampai kehidupan.
Segala sesuatu berada dalam cakrawala karya Sang Logos.
Karena itu kekristenan tidak berkata:
“Jangan belajar alam semesta.”
Justru sebaliknya:
Pelajarilah ciptaan, tetapi jangan berhenti pada ciptaan.
Lihatlah ciptaan…
dan arahkan hati kepada Sang Pencipta.
TIMBAL YANG MENUNGGU 2.000 TAHUN
Ada satu gambaran yang sangat indah.
Timbal itu menunggu.
Ia berada di dasar laut selama ribuan tahun.
Ia tidak tahu bahwa suatu hari manusia akan menemukannya.
Ia tidak tahu bahwa ia akan masuk ke laboratorium.
Ia tidak tahu bahwa ia akan menjadi bagian dari usaha manusia mencari rahasia alam semesta.
Begitu pula kita.
Kadang-kadang kita merasa hidup kita sedang tenggelam.
Kita merasa dilupakan.
Doa belum dijawab.
Pintu belum terbuka.
Impian belum terjadi.
Tetapi:
diamnya Tuhan bukan berarti tidak adanya Tuhan.
Ada musim menunggu.
Ada musim pembentukan.
Ada musim tersembunyi.
Ada musim ketika kita tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Tetapi Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
JANGAN REMEHKAN HIDUPMU
Mungkin hari ini seseorang berkata:
“Saya hanya orang biasa.”
Timbal itu juga tampak seperti barang biasa.
Tetapi sejarah memberinya fungsi yang tidak pernah dibayangkan oleh pembuatnya.
Jangan ukur hidupmu hanya berdasarkan apa yang terlihat sekarang.
Daud pernah dianggap terlalu muda.
Musa merasa tidak pandai berbicara.
Yeremia merasa terlalu muda.
Petrus hanyalah nelayan.
Para rasul bukan kelompok elit akademik Yerusalem.
Tetapi ketika Tuhan memakai mereka…
sejarah berubah.
Maka jangan berkata:
“Saya tidak berarti.”
Serahkan hidupmu kepada Tuhan.
Biarkan Dia menentukan nilainya.
DARI “MENCARI PARTIKEL” MENJADI “MENCARI KRISTUS”
Fisikawan mencari sinyal yang sangat kecil.
Mereka membangun detektor.
Mengurangi noise.
Menempatkan eksperimen di bawah gunung.
Menggunakan material shielding.
Mengumpulkan data.
Menunggu.
Meneliti.
Mengulang.
Mengapa?
Karena mereka percaya bahwa ada sesuatu yang layak dicari.
Saudara,
bagaimana dengan kita?
Apakah kita masih mencari Tuhan dengan kesungguhan yang sama?
Apakah kita menyediakan waktu untuk Firman?
Apakah kita berdoa?
Apakah kita merenungkan Kristus?
Apakah kita mencari kehendak-Nya?
Atau kehidupan kita terlalu penuh dengan noise?
Mungkin masalahnya bukan Tuhan tidak berbicara.
Mungkin hati kita terlalu penuh dengan kebisingan.
PENUTUP — KETIKA KAPAL ROMAWI MENJADI PELAJARAN IMAN
Saudara-saudara,
sebuah kapal tenggelam sekitar dua ribu tahun lalu.
Batangan-batangan timbal berada di dasar laut.
Peradaban berubah.
Generasi berubah.
Ilmu pengetahuan berkembang.
Dan akhirnya material itu menjadi berguna bagi manusia yang sedang mencoba memahami misteri alam semesta.
Bagi saya, kisah ini memberikan tiga pelajaran.
PERTAMA:
Jangan takut kepada misteri.
Alam semesta masih memiliki banyak rahasia.
Tetapi misteri bukan musuh iman.
Misteri mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia terbatas.
KEDUA:
Jangan menyamakan ciptaan dengan Pencipta.
Dark matter bukan Tuhan.
Neutrino bukan Tuhan.
Energi bukan Tuhan.
Alam semesta bukan Tuhan.
Semua itu adalah ciptaan.
Dan Yohanes berkata:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia.”
KETIGA:
Carilah Logos.
Karena pada akhirnya pertanyaan terbesar bukan:
“Apa yang ada di alam semesta?”
Tetapi:
“Siapa yang menjadi sumber keberadaan segala sesuatu?”
Dan Injil Yohanes memberikan jawaban:
“Pada mulanya adalah Firman…”
Dan Firman itu menjadi manusia.
Nama-Nya:
YESUS KRISTUS.
SERUAN IMAN
Saudara,
mungkin hari ini hidup saudara seperti kapal yang karam.
Mungkin ada bagian hidup yang terasa tenggelam.
Mungkin ada doa yang sudah dua puluh tahun belum terjawab.
Mungkin ada luka yang belum sembuh.
Mungkin saudara merasa hidup saudara tidak mempunyai nilai.
Tetapi ingat:
Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas hidup saudara.
Timbal itu menunggu dua ribu tahun.
Dan pada waktunya ia ditemukan.
Mungkin kita juga sedang berada dalam musim menunggu.
Tetapi jangan menyerah.
Karena:
Allah bekerja bahkan ketika kita belum melihat pekerjaan-Nya.
Jangan berhenti mencari.
Jangan berhenti berdoa.
Jangan berhenti belajar.
Jangan berhenti percaya.
Dan terutama:
Jangan berhenti memandang Kristus.
Karena seluruh pencarian kita akhirnya menemukan pusatnya di dalam Dia.
DOA PENUTUP
Bapa kami yang ada di dalam Surga,
kami datang dengan hati yang penuh kekaguman.
Ketika kami melihat luasnya alam semesta, kami menyadari betapa kecilnya manusia.
Ketika kami melihat kedalaman materi, kami menyadari betapa terbatasnya pengetahuan kami.
Ketika kami melihat begitu banyak misteri yang belum kami pahami, kami belajar untuk menjadi rendah hati.
Tuhan,
ajar kami untuk tidak takut kepada ilmu pengetahuan.
Ajarlah kami untuk mencintai kebenaran.
Berikan kepada kami hikmat untuk membedakan antara fakta dan spekulasi.
Berikan kepada kami kerendahan hati untuk mengatakan:
“Kami belum tahu.”
Tetapi lebih daripada itu, Tuhan,
jangan biarkan pencarian kami berhenti pada ciptaan.
Bimbinglah kami kepada Sang Pencipta.
Dari bintang-bintang kepada Sang Pencipta bintang.
Dari alam semesta kepada Sang Pencipta alam semesta.
Dari Logos kepada Kristus.
Dan ketika hidup kami berada dalam masa penantian,
berikan kami iman untuk tetap percaya.
Ketika kami merasa tidak berarti,
ingatkan kami bahwa hidup kami berada di tangan-Mu.
Ketika kami merasa tenggelam,
ingatkan kami bahwa Engkau tetap hadir.
Dan ketika dunia menjadi terlalu bising,
ajari kami masuk ke dalam keheningan bersama-Mu.
Karena kami percaya:
“Pada mulanya adalah Firman…”
Dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia.
Biarlah hidup kami akhirnya bukan hanya mencari jawaban tentang alam semesta,
tetapi menemukan keselamatan,
kebenaran,
dan kehidupan
di dalam Yesus Kristus, Sang Logos.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.

