Sebab upah dosa ialah maut

Kerohanian1027 Views
Spread the love

Selamat pagi semua saudara dalam Kristus.
Sesungguhnya di dalam penderitaan, dosa terpampang nyata di depan mata manusia sedemikian sehingga ia tidak bisa tidak mengaku bersalah.

19 Agustus

Sebab upah dosa ialah maut.
Roma 6:23

Dosa selalu penuh dengan keberdosaan, tetapi di masa kemakmuran, kita tidak begitu menyadarinya.

Debu dunia memenuhi mata kita sehingga kita tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Allah acap kali memakai penderitaan untuk mendidik anak-anak-Nya tentang kejahatan besar yang ada di dalam dosa.

Penderitaan memperlihatkan dosa sebagai kejahatan pada dirinya sendiri.

Dosa tidak hanya membawa kejahatan, melainkan dirinya sendiri adalah kejahatan.

Tidak hanya menghasilkan kepahitan, dosa adalah kepahitan itu sendiri.

Dosa mempunyai akar dan buah yang pahit. Allah
membimbing orang berdosa melalui penderitaan untuk memahami tidak saja apa yang dilakukan dosa tetapi juga apa dosa itu sebenarnya.

Ini adalah kejahatan yang murni mutlak tanpa campuran. Keseluruhan dosa adalah kejahatan.

Iblis adalah penggagasnya dan maut adalah upah akhirnya.

Tidak saja ini kejahatan belaka pada dirinya sendiri, ini merupakan kejahatan yang melawan Allah.

Dosa membuat kita meninggalkan Allah dan berpaling pada dunia: “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air (Yer. 2:13).

Dosa adalah juga pemelintiran kejahatan yang berkembang liar.

Dosa merupakan tindakan meninggalkan sumber kehidupan dan kemuliaan, dan berpindah ke bejana rusak yang bocor secepat pengisiannya.

Ada keberdosaan terburuk dalam dosa karena dosa ialah kejahatan melawan Allah.

Allah menopang bangsa Israel dengan lengan kekal-Nya; la menuntun mereka, dan mencukupkan kebutuhan mereka, tetapi tanpa sebab, mereka meninggalkan Tuhan.

Mereka tidak kekurangan apa pun tetapi telah meninggalkan Allah dengan sengaja.

Penderitaan merupakan salah satu pengadilan Allah di mana orang berdosa didakwa, divonis, dan dihukum.

Sesungguhnya di dalam penderitaan, dosa terpampang nyata di depan mata manusia sedemikian sehingga ia tidak bisa tidak mengaku bersalah.

Allah bertindak sebagai sang hakim, hati nurani adalah saksi, dosa adalah terdakwa, dan penderitaan sebagai bukti dan sekaligus pelaksanaan hukuman.

Cepat atau lambat jiwa melihat dosa sebagai kejahatan besar melebihi penderitaan, dan mulai melupakan sengsaranya, dan mulai berkabung atas dosa belaka.

Dosa sekarang menindih manusia lebih berat dari semua penderitaannya, maka berteriaklah dia seperti Ayub dari dalam debu: “Aku telah berdosa. Apakah yang akan kulakukan?” (Ayb. 7:20 KJV).

Thomas Case (1598-1682), Select Works, A Treatise of Afflictions, hlm. 78-82

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed