KETIKA IMAN BERJALAN DI ATAS AIR

Kerohanian25 Views
Spread the love

“Saudara, jangan takut kepada badai. Takutlah kehilangan pandangan kepada Yesus. Sebab badai mungkin berada di sekeliling kita, tetapi Kristus tetap berkuasa atas badai itu.”

Nas: Matius 14:22–33
Tema: Jangan melihat besarnya badai; lihatlah besarnya Kristus.
Ayat kunci: “Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: ‘Tenanglah! Aku ini, jangan takut!’” — Matius 14:27

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Ada sebuah kenyataan yang sering kita lupakan:

Mengikut Yesus tidak berarti kita bebas dari badai.

Justru dalam Matius 14 kita menemukan sesuatu yang menarik.

Yesus sendiri yang menyuruh murid-murid-Nya naik ke perahu.

“Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang…”
— Matius 14:22

Perhatikan:

Mereka berada di tengah laut bukan karena mereka salah jalan.

Mereka berada di sana karena taat kepada Yesus.

Ini penting.

Kadang-kadang kita berpikir:

“Kalau saya berjalan bersama Tuhan, mengapa hidup saya masih mengalami badai?”

Mengapa keluarga mengalami masalah?

Mengapa pelayanan mengalami tekanan?

Mengapa doa belum dijawab?

Mengapa pintu yang kita harapkan justru tertutup?

Mengapa kita merasa Tuhan begitu jauh?

Matius 14 memberikan jawabannya:

Badai tidak selalu berarti kita berada di luar kehendak Tuhan.

Kadang-kadang kita berada tepat di tengah kehendak Tuhan—namun tetap berada di tengah badai.


1. YESUS MEMERINTAHKAN MEREKA MASUK KE PERAHU

Matius 14:22 mengatakan bahwa Yesus memerintahkan mereka naik ke perahu.

Artinya, perjalanan itu dimulai dari perintah Tuhan.

Ini bukan perjalanan yang mereka rancang sendiri.

Mereka tidak berkata:

“Mari kita berlayar dan lihat apa yang terjadi.”

Tidak.

Yesus yang mengutus mereka.

Namun beberapa jam kemudian:

“Perahu itu sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.”
— Matius 14:24

Bayangkan keadaan mereka.

Malam.

Gelap.

Angin bertiup.

Gelombang menghantam perahu.

Dan mereka tidak bisa kembali.

Saudara,

ketaatan kepada Tuhan tidak selalu membawa kita langsung ke tempat yang tenang.

Kadang-kadang ketaatan membawa kita melewati tempat yang bergelora.

Abraham taat—tetapi harus meninggalkan negerinya.

Yusuf berjalan dalam kehendak Tuhan—tetapi masuk ke sumur dan penjara.

Daud diurapi menjadi raja—tetapi kemudian dikejar Saul.

Paulus dipanggil menjadi rasul—tetapi mengalami aniaya, penjara dan karam kapal.

Jadi jangan ukur penyertaan Tuhan dari keadaan yang nyaman.

Tuhan tetap bersama kita bahkan ketika perahu kehidupan kita sedang dihantam badai.


2. TUHAN TIDAK PERNAH KEHILANGAN PANDANGAN ATAS KITA

Ini bagian yang luar biasa.

Murid-murid berada di tengah laut.

Tetapi Yesus berada di gunung.

Matius 14:23 mengatakan Yesus naik ke bukit untuk berdoa seorang diri.

Secara fisik, Yesus jauh.

Tetapi secara rohani?

Mereka tidak pernah jauh dari perhatian-Nya.

Kadang-kadang kita merasa Tuhan diam.

Kita berdoa:

“Tuhan, Engkau di mana?”

Tetapi diamnya Tuhan bukan berarti absennya Tuhan.

Kita mungkin tidak melihat Tuhan, tetapi Tuhan selalu melihat kita.

Inilah yang harus kita tanamkan dalam hati.

Ketika manusia tidak melihat perjuangan kita, Tuhan melihat.

Ketika keluarga tidak memahami air mata kita, Tuhan memahami.

Ketika orang lain tidak mengetahui pergumulan kita, Tuhan mengetahui.

Mazmur 121:4 berkata:

“Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”

Tuhan tidak pernah tertidur.


3. YESUS DATANG PADA WAKTU YANG TEPAT

Matius 14:25 mengatakan:

“Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.”

Perhatikan waktunya.

Jam tiga malam.

Itu adalah waktu yang sangat gelap.

Mereka sudah lama berada dalam badai.

Mungkin mereka sudah kelelahan.

Mungkin mereka sudah berpikir:

“Apakah kita akan selamat?”

Tetapi justru pada saat itu Yesus datang.

Saudara,

Tuhan tidak pernah terlambat.

Namun sering kali Tuhan tidak datang menurut jadwal kita.

Kita berkata:

“Tuhan, sekarang!”

Tetapi Tuhan berkata:

“Tunggu.”

Kita berkata:

“Tuhan, mengapa belum?”

Tuhan mungkin sedang membentuk sesuatu di dalam diri kita.

Ada perbedaan antara:

Tuhan terlambat
dan
Tuhan memiliki waktu-Nya sendiri.

Dan ketika waktunya tiba,

Yesus datang berjalan di atas sesuatu yang sedang menakutkan mereka.

Ini sangat indah secara simbolis.

Apa yang menjadi sumber ketakutan murid-murid—

menjadi jalan yang diinjak oleh Yesus.

Air yang mengancam mereka tidak mengancam Yesus.

Gelombang yang menakutkan mereka berada di bawah kaki-Nya.

Artinya:

Apa yang berada di atas kepala kita berada di bawah kaki Kristus.

Masalah kita mungkin besar bagi kita.

Tetapi tidak pernah lebih besar daripada Tuhan.


4. JANGAN SALAH MENGENALI YESUS KARENA TAKUT

Matius 14:26 mengatakan:

“Ketika murid-murid melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: ‘Itu hantu!’”

Ini menarik.

Mereka melihat Yesus, tetapi mereka mengira Dia sesuatu yang menakutkan.

Mengapa?

Karena mereka melihat dalam kondisi takut.

Ketakutan dapat mempengaruhi cara kita menafsirkan realitas.

Kadang-kadang:

Tuhan sedang membuka jalan—

tetapi kita melihatnya sebagai ancaman.

Tuhan sedang membawa kita kepada sesuatu yang baru—

tetapi kita menganggapnya sebagai kehancuran.

Tuhan sedang mengubah hidup kita—

tetapi kita menganggapnya sebagai kehilangan.

Karena itu jangan membuat keputusan besar hanya berdasarkan apa yang kita rasakan ketika sedang berada dalam badai.

Perasaan kita dapat berubah. Firman Tuhan tetap.


5. SUARA YESUS MENEMBUS SUARA BADAI

Kemudian Yesus berkata:

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Tiga hal.

“Tenanglah.”

Yesus tidak langsung berkata:

“Badai akan berhenti.”

Dia terlebih dahulu memberikan ketenangan.

Karena terkadang Tuhan tidak langsung mengubah situasi.

Tetapi Tuhan mengubah kita di tengah situasi.

“Aku ini.”

Ini pusat semuanya.

Bukan:

“Perahumu aman.”

Bukan:

“Lautnya tenang.”

Tetapi:

“Aku ini.”

Kekristenan bukan terutama tentang memiliki kehidupan tanpa masalah.

Kekristenan adalah tentang:

memiliki Kristus di tengah masalah.

“Jangan takut.”

Mengapa?

Karena ketika kita mengetahui siapa yang bersama kita,

ketakutan kehilangan kekuasaannya.


6. PETRUS MEMINTA SESUATU YANG RADIKAL

Kemudian Petrus berkata:

“Tuhan, apabila itu Engkau, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

Dan Yesus berkata:

“Datanglah!”

Saudara,

Petrus melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh sebelas murid lainnya.

Dia keluar dari perahu.

Ada sebuah pelajaran penting:

Iman terkadang menuntut kita meninggalkan zona nyaman.

Perahu adalah tempat aman.

Tetapi mujizat terjadi ketika Petrus berani keluar dari perahu.

Perahu bisa melambangkan:

  • kenyamanan,
  • kebiasaan,
  • rasa aman,
  • kontrol manusia,
  • sesuatu yang selama ini kita andalkan.

Sedangkan air adalah tempat yang secara manusia tidak dapat dikendalikan.

Petrus tidak berjalan karena airnya aman.

Petrus berjalan karena Yesus berkata: “Datanglah.”

Ini prinsip iman:

Kita tidak membutuhkan kondisi yang sempurna untuk taat. Kita membutuhkan firman Kristus.


7. SELAMA PETRUS MEMANDANG YESUS, DIA BERJALAN

Matius 14:29:

“Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.”

Bayangkan!

Seorang manusia sedang melakukan sesuatu yang secara alami mustahil.

Tetapi kemudian terjadi perubahan.

Ayat 30:

“Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam…”

Apa yang terjadi?

Petrus mengalihkan perhatian.

Sebelumnya:

Yesus → Petrus berjalan.

Kemudian:

Badai → Petrus takut → Petrus mulai tenggelam.

Masalahnya bukan air.

Masalahnya adalah fokus.

Selama mata Petrus tertuju kepada Yesus, ia berjalan.

Ketika fokusnya berpindah kepada badai, ia mulai tenggelam.

Saudara,

apa yang paling sering memenuhi pikiran kita?

Masalah?

Uang?

Kesehatan?

Masa depan?

Kegagalan?

Pendapat manusia?

Berita?

Ketakutan?

Atau Kristus?

Karena apa yang terus-menerus kita lihat akan mempengaruhi apa yang kita percayai.


8. PETRUS TENGGELAM, TETAPI TIDAK DITINGGALKAN

Ini bagian yang sering kita lewatkan.

Petrus mulai tenggelam.

Tetapi dia berteriak:

“Tuhan, tolonglah aku!”

Dan apa yang dilakukan Yesus?

Matius 14:31:

“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia…”

Perhatikan satu kata:

SEGERA.

Yesus tidak berkata:

“Makanya jangan keluar dari perahu!”

Yesus tidak membiarkannya tenggelam.

Yesus mengulurkan tangan.

Ini Injil.

Kita mungkin jatuh.

Kita mungkin takut.

Kita mungkin kehilangan fokus.

Kita mungkin gagal.

Tetapi ketika kita berteriak:

“Tuhan, tolonglah aku!”

Tangan Kristus masih terulur.

Jadi jangan pernah berpikir:

“Saya sudah terlalu jauh.”

“Saya sudah terlalu gagal.”

“Saya sudah tidak layak.”

Selama kita masih berseru kepada Kristus, tangan-Nya tidak pendek untuk menyelamatkan.


9. TUHAN TIDAK HANYA MENYELAMATKAN PETRUS—DIA MEMBAWA MEREKA KE PERAHU

Setelah Yesus memegang Petrus:

“…dan ketika mereka naik ke perahu, angin pun redalah.”

Perhatikan urutannya.

Pertama:

Yesus datang.

Kedua:

Petrus keluar.

Ketiga:

Petrus jatuh.

Keempat:

Yesus menangkapnya.

Kelima:

Mereka kembali ke perahu.

Keenam:

Angin reda.

Artinya,

badai memiliki batas.

Tidak ada badai yang berlangsung selamanya.

Tidak ada malam yang tidak berakhir.

Tidak ada gelombang yang tidak akan berhenti.

Ada waktunya Tuhan berkata:

“Cukup.”


10. HASIL AKHIRNYA: MEREKA MENYEMBAH YESUS

Ayat 33 mengatakan:

“Sesudah mereka naik ke perahu, angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”

Perhatikan:

Mereka masuk ke dalam badai sebagai murid.

Mereka keluar dari badai dengan pengenalan yang lebih dalam tentang siapa Yesus.

Kadang-kadang Tuhan mengizinkan kita melewati badai bukan untuk menghancurkan kita,

tetapi supaya kita mengenal Dia lebih dalam.

Ada sesuatu yang hanya bisa kita pelajari di tengah badai.

Di daratan kita berkata:

“Yesus adalah Tuhan.”

Tetapi ketika badai datang dan tangan-Nya menangkap kita,

kita berkata:

“Sekarang aku tahu bahwa Engkau benar-benar Tuhan.”


TIGA PESAN BESAR UNTUK JEMAAT

1. Jangan takut pada badai

Badai bukan bukti bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Kadang badai justru menjadi tempat Tuhan menyatakan kuasa-Nya.

2. Jangan lepaskan pandangan dari Kristus

Ketika kita melihat masalah, masalah terlihat besar.

Ketika kita melihat Kristus,

kita melihat bahwa masalah kita berada di bawah otoritas-Nya.

3. Kalau jatuh, berserulah

Tidak perlu doa panjang.

Petrus hanya berkata:

“Tuhan, tolonglah aku!”

Dan tangan Yesus segera terulur.

Kadang-kadang doa terbaik bukan doa yang panjang.

Kadang doa terbaik adalah:

“Tuhan, tolong aku.”


PENUTUP: “SIAPA YANG ADA DI DALAM PERAHU?”

Saudara-saudara,

Mungkin hari ini ada yang sedang berada dalam badai.

Perahu keluarga sedang diguncang.

Perahu ekonomi sedang diguncang.

Perahu pelayanan sedang diguncang.

Perahu masa depan sedang diguncang.

Dan mungkin kita bertanya:

“Tuhan, di mana Engkau?”

Hari ini Matius 14 menjawab:

Dia datang.

Mungkin belum pada waktu yang kita inginkan.

Tetapi Dia datang.

Dan ketika Dia datang, Dia berkata:

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Karena itu jangan ukur masa depan berdasarkan badai yang sedang kita lihat.

Jangan ukur kasih Tuhan berdasarkan keadaan hari ini.

Jangan mengukur kuasa Kristus berdasarkan besarnya masalah.

Lihat kepada Yesus.

Sebab angin boleh bertiup.

Gelombang boleh meninggi.

Perahu boleh berguncang.

Tetapi selama Kristus ada,

kita tidak sendirian.

Dan bahkan ketika kaki kita mulai tenggelam,

tangan-Nya masih sanggup menangkap kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *