KEBERSAMAAN DENGAN TUHAN

Kerohanian505 Views
Spread the love

Shalom ✝️

Renungan Harian TRUTH

Jumat, 05 Mei 2023

Hanya orang yang bersama-sama dengan Tuhan sejak hidup di bumi, akan bersama-sama dengan Tuhan di kekekalan. Kalau kita tidak di dalam kebersamaan dengan Tuhan sejak di bumi ini, jangan berharap kita akan bersama-sama dengan Tuhan di kekekalan.

Kehadiran kita di gereja bukanlah jaminan bahwa kita telah bersama-sama dengan Tuhan. Apakah kebersamaan suami istri hanya pada waktu mereka ada di ranjang atau di ruang makan?

Tentu kebersamaan mereka adalah kebersamaan sepanjang waktu, bukan hanya secara fisik di satu tempat bersama, tetapi harus sehati, sepikiran, seperasaan, setujuan. Inilah arti sebuah persekutuan.

Mungkin kita seorang aktivis bahkan pendeta, mengambil bagian dalam kegiatan gereja. Itu belumlah jaminan bahwa kita ada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Jangan menganggap murahan Tuhan.

Standarnya firman Tuhan, luar biasa; “Supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.”

Bayangkan, persekutuan Yesus dengan Bapa menjadi standar persekutuan kita dengan Bapa dan Tuhan Yesus. Mari kita menyadarinya kalau kebersamaan kita dengan Tuhan belum sebagaimana seharusnya.

Kita menyadarinya seperti anak terhilang, kita harus kembali datang kepada Bapa dan berkata, “Aku telah berdosa kepada Bapa dan surga.” Orang-orang yang terhilang ini pasti belum menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kenikmatan, dan pasti belum merindukan Kerajaan Surga.

Anak bungsu yang terhilang berkata, “Aku telah berdosa kepada Bapa. Aku merasa di luar rumah, aku lebih bahagia. Aku mengkhianati Bapa. Aku berdosa kepada surga, karena aku merasa bahwa ada dunia lain yang lebih baik, atau paling tidak sejajar dengan surga.”

Di Perjanjian Lama saja sudah ada satu positioning kehidupan rohani yang luar biasa.

Dalam Mazmur 73, pemazmur mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.”

Itu pasti bukan sebuah retorika, melainkan sebuah pengakuan  yang jujur dari hati yang tulus. Di Perjanjian Lama, pemazmur sudah menunjukkan adanya sebuah persekutuan yang begitu eksklusif dengan Allah.

“Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah; kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana.

Bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia mendahului mereka, melangkah ke Rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan?

Seperti orang baik, kita datang kepada Tuhan dengan sorak-sorai dan nyanyian syukur, karena di situlah sukacita kita. Dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan, kita bukan mau berkompetisi dengan dunia atau mau menjadi lebih hebat, lebih terhormat, lebih kaya, lebih berkuasa, melainkan kita mendahului mereka melangkah ke Rumah Allah.

Sejujurnya, sebagian kita telah diracuni oleh dunia, sehingga kita belum benar-benar haus akan Allah seperti yang dikemukakan pemazmur. Bagi seekor rusa, air itu bukan hobi, bukan komplemen, air adalah kehidupan.

Kebersamaan dengan Tuhan adalah kehidupan. Kekristenan bukan bagian hidup kita, tetapi seluruh hidup kita. Kita membutuhkan Tuhan lebih dari kita membutuhkan nafas kita, lebih dari kita membutuhkan darah yang mengalir di tubuh kita.

Jangan menunggu ada persoalan, pergumulan hidup, kebutuhan-kebutuhan yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, baru mencari Tuhan. Dialah kehidupan kita. Kita kaya atau miskin; kita sehat atau sakit; kita terhormat atau tidak; kita sukses dalam studi, karier, atau tidak, bukan masalah.

Yang penting kita memiliki Tuhan dalam kebersamaan yang benar. Namun ingat! kita tidak bisa memiliki Tuhan kalau Tuhan tidak bisa memiliki hidup kita. Tuhan tidak bisa memiliki hidup kita kalau kita masih memiliki banyak kesenangan. Apalagi kalau kita masih hidup di dalam dosa. Jangan remehkan Tuhan.

Dan satu kalimat yang harus kita ukir di hati, “Jangan melawan Tuhan.”

Jangan mencari Tuhan hanya pada waktu kita membutuhkan Dia. Sebab itu berarti kita hanya mau mengeksploitasi Tuhan, memanfaatkan Tuhan. Kita bisa oportunis di mata manusia, dan itu pun tidak etis.

Apalagi kalau kita oportunis di hadapan Tuhan. Sebaliknya kita harus berani menghayati dan mengenakan bahwa Ia lebih dari nafas hidup kita. Dia lebih dari darah yang mengalir tubuh kita. Kita harus meratap, minta pencerahan Roh Kudus, apakah kebersamaan kita dengan Tuhan sudah memuaskan hati-Nya.

Lebih baik kita tidak pernah jadi manusia, kalau kita tidak pernah bertemu dan berjalan dengan Tuhan.

Jangan kita pandang dan samakan Tuhan seperti dewa-dewi di banyak agama suku dan agama purba. Dia adalah Allah Pencipta langit dan bumi yang menciptakan kita, bahkan menebus dosa kita.

Dia tidak membutuhkan seremonial, ritual, kebaktian yang kita gelar setiap hari Minggu. Sebab yang dibutuhkan adalah kebersamaan dengan Tuhan setiap saat. Standar kebersamaan dengan Tuhan itulah yang harus kita tahu.

Setan berusaha menarik kita, supaya kita tidak ada dalam posisi yang benar di hadapan Allah. Dan setan penipu. Dia membuat kita tenang, sejahtera, damai semu, seakan-akan kita sudah benar dan memiliki tempat di hadapan Allah, dan telah ada dalam kebersamaan dengan Tuhan. Padahal, belum.

KEBERSAMAAN DENGAN TUHAN ADALAH KEHIDUPAN.

Kiranya kebenaran hari ini memberkati kita semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *