KUBAH YANG MEMBELAH SAMUDRA SEMESTA PURBA

Kerohanian391 Views
Spread the love

Alkitab terjemahan versi Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK-LAI) tampak memperjelas kosmologi kuno di kitab Kejadian pasal 1, supaya mudah dipahami oleh pembaca sekarang. Versi BIMK cenderung untuk mengungkap maksud asli, sedangkan Versi Terjemahan Baru (TB-LAI) condong untuk mempertahankan bentuk asli. Kedua versi Alkitab itu memiliki kekuatan & kelemahannya masing-masing.

Mari sejenak kita nikmati sepuluh ayat pertama dari kitab Kejadian pasal 1 versi BIMK itu, sebagai berikut:
Pada mulanya, waktu Allah mulai menciptakan alam semesta,
bumi belum berbentuk, dan masih kacau-balau. Samudra yang bergelora, yang menutupi segala sesuatu, diliputi oleh gelap gulita, tetapi kuasa Allah bergerak di atas permukaan air.
Allah berkata, “Jadilah terang!” Lalu ada terang.
Allah senang melihat hal itu. Lalu dipisahkan-Nya terang itu dari gelap,
dan dinamakan-Nya terang itu “Siang” dan gelap itu “Malam”. Malam lewat, dan jadilah pagi. Itulah hari yang pertama.

Kemudian Allah berkata, “Jadilah sebuah kubah untuk membagi air itu menjadi dua, dan menahannya dalam dua tempat yang terpisah.” Lalu hal itu terjadi. Demikianlah Allah membuat kubah yang memisahkan air yang ada di bawah kubah itu dari air yang ada di atasnya.
Kubah itu dinamakan-Nya “Langit”. Malam lewat dan jadilah pagi. Itulah hari yang kedua.
Kemudian Allah berkata, “Hendaklah air yang ada di bawah langit mengalir ke satu tempat, sehingga tanah akan kelihatan.” Lalu hal itu terjadi.
Allah menamakan tanah itu “Darat”, dan kumpulan air itu dinamakan-Nya “Laut”. Dan Allah senang melihat hal itu.-
(Kej. 1:1-10, BIMK-LAI)

Singkatnya, pemahaman Israel kuno terhadap jagat raya adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum langit & bumi muncul, sudah ada air samudra raya purba yang memenuhi ruang alam semesta yang gelap.
  2. Allah ada di atas & melampaui samudra raya purba itu.
  3. Langit dianggap berbentuk kubah yang membelah kedalaman samudra asali itu, memisahkan air yang di atas kubah dari air yang ada di bawahnya.
  4. Pada mulanya bumi masih terbenam di dalaman air samudra semesta purba itu.
  5. Daratan atau bumi muncul sebagai tahap selanjutnya setelah pembelahan samudra raya oleh kubah itu.

Seandainya kitab Kejadian pasal satu itu ditulis pada masa kini, maka Allah akan memulai penciptaan jagat raya dari fluktuasi kuantum atau fluktuasi vakum, berlanjut dengan penggembungan asali (“cosmic inflation”) atau dentuman raya (“big bang”).

Kepustakaan:
David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama (BPK Gunung Mulia, 2001).
Alan Guth, The Inflationary Universe (Perseus Books, 1997).
Stephen Hawking, Brief Answers to the Big Questions (John Murray, 2018).
Lawrence M. Krauss, A Universe from Nothing (Atria Paperback, Simon & Schuster, 2013).
Lois Rock & Steve Noon, Manusia & Peradaban dalam Alkitab (Penerbit Bina Kasih, 2012).
Alkitab BIMK (Lembaga Alkitab Indonesia, 1985).
Alkitab Edisi Studi (Lembaga Alkitab Indonesia, 2011).
The NIV Study Bible (Zondervan, 1985).

Penulis: Jos Manampiring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *