Melalui Penderitaan

Kerohanian464 Views
Spread the love

Selamat pagi semua saudara dalam Kristus.
Melalui penderitaan, Allah menyingkapkan kebobrokan yang tidak disadari yang ada di dalam hati umat-Nya

25 MEI

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu.
Ulangan 8:2

Melalui penderitaan, Allah menyingkapkan kebobrokan yang tidak disadari yang ada di dalam hati umat-Nya yaitu :

kecongkakan, ketidaksabaran, ketidakpercayaan, penyembahan berhala, kecurigaan kepada Allah, sungut-sungut, dan tidak bersyukur.

Dosa bersembunyi di tempat yang tertutup dan dalam, dan tidak mudah disadari sampai api penderitaan datang.

Tungku pembakaran merontokkan karat-karat.
Di dalam tungku kita dapat melihat kebobrokan lebih banyak daripada yang mampu kita perkirakan.

Betapa rasa cinta diri mudah mendidih dan meluap dari dalam diri, menimbulkan kecongkakan, tidak mengandalkan Allah, mengandalkan makhluk ciptaan, membangkitkan ketidakpuasan, menggerutu, bangkit melawan dispensasi Allah yang suci, benar dan adil!

Celakalah saya, alangkah buruknya hati saya!
Penderitaan juga membawa ingatan akan dosa masa lalu: “Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu” (Kej. 42:21).

Dua puluh tahun setelah mereka menjual Yusuf sebagai budak, saudara-saudaranya mengingat dosa ini di dalam kesesakan mereka.

Masa-masa sengsara mengembalikan ingatan kita akan dosa. Di dalam penderitaan, Dia mengosongkan kita dari diri sendiri supaya kita datang kepada Yesus Kristus demi pembenaran dan kekuatan.

la membiarkan kita melihat sendiri semua penyelewengan kita sehingga kita dapat meluruskannya kembali; apa yang lemah, kita kuatkan; apa yang kosong, kita isi kembali; dan apa yang timpang jangan disingkirkan.

Penderitaan juga mengajarkan kita untuk berdoa. Orang yang tidak pernah berdoa sebelumnya akan berdoa di saat menderita.

Mereka akan lebih sering berdoa dan lebih bersungguh-sungguh.

Daud, seorang yang selalu berdoa, saat dianiaya, tidak melakukan apa pun selain berdoa (Mzm. 109:4).

Menyedihkan bila menyadari bahwa di dalam
keadaan kita yang tenang dan damai, kita berdoa secara sembrono dan semaunya, dan membiarkan segala hal remeh mengganggu doa kita.

Saat menderita, Allah membuat kita bertelut. Kristus sendiri pun berdoa lebih intensif di dalam kesengsaraan-Nya (LUK. 22:44).

Demikian juga Daud (Mzm. 22). la mengumpulkan segenap tenaganya untuk berdoa, dan sebagai keturunan sejati Yakub, ia bergumul dengan Allah, dan tidak akan melepaskan la pergi sebelum mendapatkan berkat-Nya.

Thomas Case (1598-1682), Select Works, A Treatise of Afflictions, hlm. 28-32

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *