Senyum Ibu

Kerohanian651 Views
Spread the love

Ibuku yang malang dalam menjalani kehidupannya dunia, tetapi menyambut Tuhan dengan senyum bahagia. Itulah yang membuatku kagum melihatnya. Saat kami masih usia SD, ayahku menikah lagi dengan teman satu kantornya, dan sejak saat itu ayah tidak pernah mengirimkan belanja kami. Akibat perilaku ayah ini, pendidikan kedua abangku terbengkalai dan hanya tamat SMP. Selanjutnya kedua abangku hidup sebagai preman dan bergaul dengan anak-anak jalanan dan sering memeras pedagang kaki lima. Kalau permintaannya tidak dipenuhi, maka abangku ini tidak segan-segan membuat keributan. Melihat tingkah abangku ini, seseorang membunuhnya saat dia tidur di pos hansip. Kematian ini membuat kami semakin sedih. Bibir ibuku terkatub rapat tidak mampu berkata-kata, kecuali air mata meleleh membanjiri kedua pipinya. Dia pasrah saja menerima kenyataan ini.

Pada saat pemakaman, saya melihat ayah, tetapi setelah acara selesai, ayahku langsung kabur tanpa bertegur sapa dengan mama dan kami anak2nya. Ibu yang terbeban mencari nafkah kami sehari-hari. Sepanjang hidup ibuku, kesesakan, pergumulan yang sulit dihadapinya dengan tabah tanpa bersungut sungut. Dia berhasil mengalahkan kehendak dunia. Karena belanja kami tidak pernah dikirim, maka ibuku bekerja sebagai pembantu. Hasil itulah disisihkan untuk membiayai sekolahku hingga tamat SMU. Setiap malam kami berdua tidak lupa bersaat teduh dan berdoa. Hanya kami berdua saja di rumah karena abangku yang satu lagi bekerja sebagai sopir angkot bila sopir utama berhalangan. “Jangan pikirkan aku mama” aku bisa mencari kebutuhanku sendiri”. ”Adikku Simon harus bisa bersekolah”. Kata-kata abangku ini menumbuhkan semangat bagiku untuk giat belajar.

Tamat SMU, saya diterima di sebuah perusahaan swasta. Sorenya aku melanjutkan kuliah mengambil D3, sedangkan mama masih bekerja sebagai pembantu.

Tak lama kemudian, ketenangan kami terusik mendengar ayahku sakit dan isteri mudanya meninggalkannya begitu saja. Dia tidak peduli lagi setelah uangnya terkuras habis membiayai isteri muda. Ayah minta kembali kerumah kami. Hatiku berontak menolaknya. Dalam hati aku berkata: ”Rasakan akibat perbuatan ayah”, Aku mengusulkan kepada mama, agar tidak mau menerima kehadiran ayahku. Dia sudah cukup lama menyakiti kami. “Simon, jangan simpan dendam dalam hatimu”, ”Aku sendiri sudah siap menerima kenyataan ini”. ”Dia adalah ayah kandungmu dan suamiku juga”. Kata-kata ibu membuatku menangis. Sungguh mulia hati ibuku ini. Ayah akhirnya kembali kerumah dalam keadaan lumpuh. Ibu mengurusnya tanpa bersungut-sungut. Ayahku masih sempat merasakan “kasih” dari ibu. “Maafkan aku ma, aku sudah membuatmu menderita cukup lama”. Sebulan kemudian , ayahku meninggal dunia.

Dari peristiwa-peristiwa yang kami alami, membuat ibu semakin bergantng kepada kekuasaan Tuhan. Dia tidak pernah berhenti memuji Tuhan sebelu tidur. Karena kekuatan dari Tuhanlah aku bisa melewati kesulitan hidup ini. Pada usia 65 tahun, ibu jatuh sakit. Dia menolak dirawat di rumah sakit. “Aku sudah biasa nak, mengalami kepedihan dan saya anggap ini cara Tuhan untuk membuatku selalu bergantung kepada Tuhan.

Saya nggak usah dibawa kerumah sakit. Aku sudah cukup bahagia bila setiap malam kita dapat bernyanyi bersama memujiNya” Demikianlah jawaban ibuku yang kukasihi ini. Melihat kondisi ibuku yang semakin parah, siang itu dia meraih tanganku untuk berdoa bersama dan dia mau mengucapkan kata-kata perpisahan buat kami. Dia berkata: ”Anak-anakku, jangan takut menghadapi kesulitan. Berserulah kepada Tuhan dan Dia pasti menguatkanmu. Kami saling memaafkan dan setelah membaca Firman Tuhan dari Maz,91, ibuku tertunduk dan menutup mata selama-lamanya. Wajahnya menunjukkan senyum bahagia . Ibuku yang malang sepanjang hidup, menyambut Tuhan dengan senyum bahagia. “Selamat jalan mama”. Kami ikut bersukacita dan sampai ketemu lagi di rumah Bapa di Surga.

Teman-teman, apakah anda mau mengampuni orangtua yang mengukir kepahitan dalam hidupmu. Ibu ini adalah salah satu contoh yang mampu mengampuni suaminya, sehingga dia memperoleh sukacita abadi. Dia meninggal dengan tersenyum.

NB:Kisah yang saya tulis ini adalah kisah nyata dialami oleh tetangga kami di Perumnas 2 Bekasi.

Wals

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *