SUATU KEHORMATAN

Kerohanian398 Views
Spread the love

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”1 Petrus 2:9

     Dalam kenyataan yang kita dapat temukan, banyak orang percaya yang tidak mengutamakan bagaimana menjadi manusia yang layak sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, dan memikirkan apa yang dirancang Allah dalam hidup untuk masuk proyek Tuhan; termasuk di dalamnya para pendeta dan aktivis.

Kalau bangsa Israel, mereka tidak pernah mau tahu rencana Allah dalam hidup mereka untuk orang lain, karena mereka hanya peduli rencana Allah untuk hidup mereka sendiri. Padahal, kita tidak akan pernah kecukupan dengan memikirkan diri sendiri, dan masalah kita tidak pernah selesai. Sampai mati, kita akan terus punya masalah.

Kita menjadi orang yang tidak layak ditolong Tuhan, tidak layak diberkati Tuhan, karena kita hanya memikirkan diri kita sendiri.

     Sekarang, kesempatan ini terbuka untuk kita. Dan kita akan sangat menyesal kalau kita pulang dengan tangan kosong, seperti yang dikatakan dalam Lukas 12 tentang orang kaya yang pikirannya hanya: “bagaimana aku menambah jumlah lumbungku untuk menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku, supaya aku bisa berkata: jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Beristirahatlah, makanlah dan minumlah, dan bersenang-senanglah.”

Orang kaya ini bodoh, bahkan gila. Perut diisi gandum, kenyang. Jiwa diisi gandum, tidak kenyang, bukan? Ironis, hari ini banyak orang yang seperti itu. Sirkuitnya dipaksa sehingga jadi rusak.

     Sebagian kita itu masih punya unsur-unsur kerusakan ini. Bukan tidak boleh memiliki ini dan itu atau berekreasi ke mana pun. Tuhan akan memberi kita kesempatan untuk menikmati pemandangan alam, berlibur dengan keluarga, bersantai dengan sahabat, tapi jangan kita hanyut, tenggelam dalam kesenangan-kesenangan tersebut.

Betapa bedanya kita dengan bangsa Israel. Tapi kita melihat banyak gereja, banyak pendeta mengimitasi diri sebagai umat seperti bangsa Israel. Dan tidak melihat perbedaan ini, sehingga tidak menemukan mandat yang Tuhan berikan kepada kita, yaitu: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.”

     Jadi, masuk Perjanjian Baru, kita menjadi anak-anak Allah yang berarti sepenanggungan dengan Yesus yang adalah Anak Tunggal-Nya. Dan polanya adalah kehidupan Yesus. Bahwa Dia benar-benar dalam segala disamakan dengan kita, titik. Jangan ditambah-tambahi. Bahwa Dia dalam perjuangan-Nya benar-benar bergantung kepada Bapa, bukan karena ada kekuatan istimewa di dalam diri-Nya.

Karenanya, sebelum memilih murid-murid-Nya, Dia berdoa semalam-malaman. Dia harus berdoa guna mendapatkan kekuatan. Itulah sebabnya juga Dia menangis. Bahkan dikatakan di dalam kitab Ibrani, “dengan keluhan dan tangisan.” Bahkan Dia sendiri yang mengatakan, “mau mati rasanya, hati-Ku sedih.” Itu kemanusiaan yang sempurna.

     Dengan kemanusiaan Yesus yang sempurna, kita bisa optimis bahwa kita juga bisa berbuat seperti yang Dia perbuat. Namun kita harus menghidupkan Yesus di zaman kita, di dalam diri kita. Sampai kita bisa berkata, “ikuti teladanku seperti aku ikut teladan Kristus.” Jadi setelah masuk zaman Perjanjian Baru, semua kita menjadi imam.

Tidak ada istilah “ini imam, ini awam.” 1 Petrus 2:9 mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”

     Kita adalah jemaat yang harus dewasa untuk menjadi perwira tinggi Kerajaan Surga. Kita ini istimewa. Namun tentu untuk menjadi istimewa secara de facto, kita harus berjuang, bertumbuh di dalam Tuhan. Jangan kita tenggelam dengan masalah.

Bahkan yang sudah berusia pun jangan menjadi kecil hati dan berkata, “Saya tua, tidak berdaya.” Secara umur memang kita sudah tua, tapi kalau kita duduk diam di kaki Tuhan, terus bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, Tuhan? Apa bagian pekerjaan-Mu yang menjadi bagianku? Aku mau menyelesaikannya.”

Maka Tuhan pasti akan menunjukkan apa yang harus kita lakukan. Kita adalah orang-orang yang dipilih menjadi imamat-imamat, hulubalang-hulubalang. Jangan lihat hidupmu sekarang yang nganggur, banyak utang, belum punya rumah.

     Sungguh, kita jangan pikirkan itu. Kalau kita hanya tenggelam berpikir di situ, sampai mati kita akan terus tenggelam dalam keadaan itu. Sebaliknya, kita harus mulai berpikir: “aku mau mengerti pikiran, perasaan-Mu, Tuhan.

Setiap kata yang kuucapkan menjadi nyanyian, jadi syair. Setiap apa pun yang kulakukan menjadi keharuman, menjadi tarian yang indah di hadapan-Mu.” Mengenal Allah yang benar itu luar biasa. Waktu kita berdoa, kita diam, hayati Allah yang sudah ada dari kekal sampai kekal, yang menciptakan langit dan bumi.

Dahsyat sekali Allah kita. Maka adalah suatu kehormatan kalau kita bisa mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. Jadi, berurusanlah dengan Tuhan. Sediakan waktu untuk mencari wajah-Nya dan untuk menemukan kehendak-Nya. Kalau dalam kehidupan bangsa Israel, hanya imam yang boleh menjumpai Tuhan, tapi dalam umat Perjanjian Baru, setiap kita bisa menjumpai Allah.

Kiranya kebenaran hari ini memberkati kita semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *