YAKOB DITABOK DI TEPI SUNGAI YABOK

Kerohanian, Tokoh637 Views
Spread the love

Tulisan ini sekadar komentar singkat terhadap paradoks, kontras, & ironi yang menarik di Kejadian 32:22-23, yaitu kisah pergulatan (Ibrani, “yeabeq”) antara Yakub (Ibr., “yaaqob”) dengan seorang misterius di tepi sungai Yabok (Ibr., “yabboq”). Yakub sedang dalam perjalanan pulang kampung sambil dihantui balas dendam dari Esau, saudara kembarnya.

📖 [Pada malam itu Yakub bangun
dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya,
dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok.
Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.]
🔎 Menyeberangi sungai di malam hari adalah sangat mencekam & berbahaya. Tampaknya, karena takut terlihat oleh Esau & anak buahnya di pagi atau siang hari, maka rombongan Yakub terpaksa menyeberangi sungai Yabok itu di malam hari. Ironis, menghindari suatu ancaman, tetapi dengan menempuh risiko lain.

📖 [Lalu tinggallah Yakub seorang diri.
Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.]
🔎 Hal itu menyiratkan bahwa seluruh keluarga Yakub sudah jauh berjalan di depan meninggalkan Yakub sendirian. Tampaknya itu disengaja oleh Yakub. Maksudnya, jika Esau datang menyerang, maka Yakub punya kesempatan untuk melarikan diri. Ironis, di dalam kesendiriannya untuk rasa aman, ia malah diserang oleh seorang misterius. Entah siapa orang itu, muncul mendadak. Yakub terpaksa harus bergulat (berkelahi) dengan orang itu.

📖 [Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.]
🔎 Aneh, orang misterius itu tidak dapat mengalahkan Yakub melalui pergulatan yang menguras tenaga. Namun, hanya dengan “menyentuh” (LAI, “memukul”; NIV, RSV, ESV, Fox, “touch”) saja, sendi pangkal paha Yakub terpelecok. Si orang misterius itu ditampilkan sebagai insani sekaligus gaib.

📖 [Lalu kata orang itu:
“Biarkanlah aku pergi,
karena fajar telah menyingsing.”
Sahut Yakub:
“Aku tidak akan membiarkan engkau pergi,
jika engkau tidak memberkati aku.”]
🔎 Percakapan itu menyiratkan, meskipun fisik Yakub mengalami cedera, tetapi ia masih kuat untuk menahan si orang misterius itu untuk pergi. Yakub menyadari bahwa si orang misterius itu bukan orang biasa. Itu sebabnya ia meminta berkat dari orang itu.

📖 [Bertanyalah orang itu kepadanya:
“Siapakah namamu?”
Sahutnya: “Yakub.”
Lalu kata orang itu:
“Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub,
tetapi Israel,
sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia,
dan engkau menang.”]
🔎 Semasa mudanya Yakub senantiasa “bergulat” dengan orang lain. Bahkan sejak dalam rahim ibunya, ia sudah bergulat dengan Esau, saudara kembarnya. Saat dewasa ia pun “bergulat” dengan pamannya. Kini, akibat pergulatan dengan si orang misterius itu, Yakub kalah sekaligus menang. Yakub kalah karena sendi pahanya terpelecok, tetapi ia menang karena mendapat berkat, bahkan nama baru: “yisrael”.

📖 [Bertanyalah Yakub:
“Katakanlah juga namamu.”
Tetapi sahutnya:
“Mengapa engkau menanyakan namaku?”
Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.
Yakub menamai tempat itu Pniel,
sebab katanya: “Aku telah melihat Allah
berhadapan muka,
tetapi nyawaku tertolong!”]
🔎 Meski si orang misterius itu tidak memberi tahu nama dirinya, tetapi Yakub sadar bahwa ia telah bergulat dengan Allah sendiri. Berhadapan langsung dengan Allah bisa berakibat kematian. Itulah sebabnya ia tampak sangat bersyukur bahwa ia masih hidup, walau telah melihat Allah berhadapan muka.

📖 [Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel;
dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.]
🔎 Narator memperlihatkan bahwa babak baru kehidupan Yakub (Israel) dimulai. Ditandai dengan fajar menyingsing, berkat & kaki pincang berjalan seiring. Malam yang mencekam & melelahkan telah dilalui, walau masih ada tantangan yang harus dihadapi.

📖 [Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha,
karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.]
🔎 Itu bukan kesimpulan dari pengisahan pergulatan Yakub, tetapi hanya sekadar catatan tambahan tentang asal-usul suatu kebiasaan budaya, yang masih berlaku saat kitab Kejadian sedang ditulis.

Kepustakaan:
Jan Fokkelman, Di Balik Kisah-kisah Alkitab (BPK Gunung Mulia, 2008).
Everett Fox, The Five Books of Moses (Shocken, 1995).
Hortensius F. Mandaru, Daya Pikat & Daya Ubah Cerita Alkitab: pengantar tafsir naratif (Penerbit PT Kanisius, 2019).
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Gajah Mada University Press, 1998).
Richard L. Pratt, He Gave Us Stories (P&R Publishing, 1993).
Leland Ryken, Words of Delight (Baker Book House, 1992).
Victor P. Hamilton, The Book of Genesis: chapters 18-50 (Eerdmans, 1995).
Pedoman Penafsiran Alkitab: Kitab Kejadian (Lembaga Alkitab Indonesia-Yayasan Kartidaya, 2020).
Alkitab Edisi Studi (Lembaga Alkitab Indonesia, 2011).
The NIV Study Bible (Zondervan, 1985).

Penulis: Jos Manampiring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *