DIANGGAP DETAIL SEPELE, LANTAS DIBUANG

Kerohanian419 Views
Spread the love

“Most gospel narratives have little in the way of vivid visual imagery. Where it is found, this is particularly characteristic of Mark … “
-Richard Bauckham

Injil Markus lebih pendek dibandingkan di antara injil-injil Sinoptik. Namun, Markus memiliki sejumlah detail menarik yang tak ada di dalam Injil Matius & Lukas. Misal, Mrk. 4:38 mencatat bahwa Yesus tidur di sebuah tilam (bantal, matras). Kata “tilam” tak ada di Matius & Lukas (Mat. 8:24 & Luk. 8:23). Contoh lain adalah Mrk. 6:39 yang menuliskan bahwa orang-orang duduk di atas rumput hijau. Frasa “rumput hijau” atau “hijau” juga absen di Injil lainnya (Mat. 14:19 & Luk. 9:15). Beberapa rincian lain dari Markus yang tak muncul di Matius atau Lukas adalah Mrk. 2:4; 4:36-37; 6:40; 9:20; 10:32, 50.

Dalam karya sastra umum, detail naratif seperti tadi itu berfungsi untuk membangkitkan imaji visual para pembaca. Kadang-kadang visualisasi itu adalah unsur penting & terpadu dengan jalannya kisah. Menghapusnya bisa merusak alur & keutuhan cerita. Namun, rincian itu dibuang oleh penulis Injil Matius & Lukas. Detail seperti itu dianggap kurang penting, sementara Matius & Lukas perlu ruang lebih untuk menuliskan bahan nonMarkus di lembaran papirus mereka (band. Bauckham 2006). Menghapus rincian sepele itu toh tidak merusak inti kisah, juga tak membuat pembaca Injil bingung.

Bagi para pencinta sastra, rincian visual Injil Markus adalah ornamen yang berarti, meskipun penghapusannya tidak memengaruhi jalan cerita atau pesan moralnya. Di pihak lain, para sejarawan menganggap detail itu sebagai petunjuk berharga terkait tradisi & sejarah lisan kisah-kisah dalam Injil. Imaji visual itu sangat mungkin adalah kenangan dari saksi mata yang ikut dalam peristiwa yang diceritakan (bandingkan Walton & Wenham 2001; Bauckham 2006). Si saksi historis itu melihat langsung bantal yang dipakai Yesus tidur. Ia menyaksikan peristiwa mukjizat roti terjadi di saat rumput masih hijau, di awal musim semi (lihat NIVSB 1985; Walton & Wenham 2001).

Sementara itu, banyak bagian lain yang lebih memerlukan detail, tetapi tidak diberikan oleh Markus kepada Injilnya (band. Eddy & Boyd 2007). Berarti, rincian naratif seperti itu bukan kebiasaan si penulis Injil, melainkan telah ada dalam sejarah lisan. Mengingat Injil Markus adalah Injil tertua, maka semakin kuat dugaan bahwa imaji visual itu berasal dari memori saksi mata yang ada bersama Yesus di tempat kejadian. Barangkali si saksi itu adalah Simon Petrus, murid Yesus yang konon “dekat” dengan penulis Injil Markus. Boleh jadi, mereka saling kenal secara pribadi, atau sekadar terhubung oleh mata rantai terpendek dari tradisi lisan.

“In fact, … Mark misses many opportunities to do … rampant and creative embellishment of the tradition. This is an important point, since historians rightly can become suspicious if they find ‘excessive detail and elaboration’ in an account.”
-Paul Rhodes Eddy & Gregory A. Boyd

Kepustakaan:
Richard Bauckham, Jesus (Oxford University Press, 2011).
Richard Bauckham, Jesus and the Eyewitnesses (Eerdmans, 2006).
Paul Rhodes Eddy & Gregory A. Boyd, The Jesus Legend (Baker Academic, 2007).
Jos Manampiring, “Suara Asli ‘Arwah’ Petrus” (Facebook).
A.A. Sitompul, Sinopsis Ketiga Injil (Lembaga Alkitab Indonesia, 1996)
David Wenham & Steve Walton, Exploring the New Testament, Volume One (InterVarsity Press, 2001).
The NIV Study Bible (Zondervan, 1985).

Penulis: Jos Manampiring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *