KETIKA PENULIS INJIL MERASA MALU

Kerohanian, Tokoh475 Views
Spread the love

“In itself, studying the Gospel account in order to see how the evangelist worked is very challenging and interesting.”

-Simon J. Kistemaker

Konon penulis Injil Matius & Lukas memiliki Injil Markus sebagai rujukan. Injil Markus adalah injil tertua dibandingkan ketiga Injil lain yang sama-sama berasal dari abad 1 M. Demikianlah pandangan mayoritas dari para sejarawan & penafsir korpus Perjanjian Baru.

Kadang-kadang Injil Markus agak kasar dalam menampilkan sikap negatif para murid Yesus. Sebab itu, penulis Injil Matius & Lukas tampak menghaluskan narasi Markus. Contoh:

• Sikap tidak patut dari dua murid Yesus di Injil Markus (Mrk.10:35-45). Yakobus & Yohanes memohon langsung kepada Yesus supaya mereka diberikan posisi terhormat. Boleh jadi karena merasa malu, penulis Injil Matius menggantinya dengan adegan permohonan oleh ibunda mereka (Mat. 20:20-22). Bahkan, Matius tampak enggan menyebut “Yakobus & Yohanes”, tetapi membiarkannya sebagai “anak-anak Zebedeus”. Namun, tak perlu menuduh Matius memfitnah ibunya Yakobus & Yohanes. Sangat mungkin sikap kedua murid itu didukung oleh ibunda mereka. Injil Matius hanya kurang nyaman menampilkan langsung permohonan dari anak-anak Zebedeus itu.

• Kisah Yesus meredakan angin ribut di Mrk. 4:35-41 (bandingkan Mat. 8:23-27, Luk. 8:22-25). Ucapan para murid: “Guru, engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38), dianggap kasar & kurang sopan. Matius melembutkannya menjadi: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat. 8:25). Lukas memodifikasi: “Guru, guru, kita binasa.” (Luk. 8:24). Bahkan, kecaman dari Yesus, “… Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:40), juga dimodifikasi. Oleh Matius ditulis ulang: “Mengapa …, kamu yang kurang percaya?” (Mat. 8:26). Lukas menghaluskan: “Di manakah kepercayaanmu?” (Luk. 8:25). Seruan para murid & teguran Yesus itu diperlunak, barangkali karena Matius & Lukas malu terhadap ketidakpercayaan para murid.

Ekspresi negatif yang terkait dengan para murid itu tidak selalu dihaluskan oleh Matius & Lukas. Namun, secara umum penulis kedua Injil itu menampilkan para murid Yesus sedikit lebih positif dibandingkan narasi di Injil Markus. Contoh, bandingkan Mrk. 8:27-33 dengan Mat. 16:13-23 & Luk. 9:18-22 terkait sikap Petrus. Fakta buruk apa yang dipertahankan, serta bagian mana yang disajikan lebih baik oleh Matius & Lukas daripada Markus?

“We can often make a good guess pertaining to why one text differs from another. But it is also the case that we are often left scratching our heads in bewilderment.”

-Michael R. Licona

Kepustakaan:

Richard Burridge, Four Gospels, One Jesus? (Eerdmans, 2005).

David A. Black & David S. Dockery (editors), Interpreting the New Testament (Broadman & Holman Publishers, 2001).

Simon J. Kistemaker, The Gospels in Current Study (Baker Book House, 1980).

Michael R. Licona, Why Are There Differences in the Gospels? (Oxford University Press, 2017).

Jos Manampiring, “Anak Timeus & anak-anak Zebedeus” (Facebook).

Jos Manampiring, “Yesus Dicurigai Pura-pura Tidur” (Facebook).

A.A. Sitompul, Sinopsis Ketiga Injil (Lembaga Alkitab Indonesia, 1996)

David Wenham & Steve Walton, Exploring the New Testament Volume One (InterVarsity Press, 2001).

Penulis: Jos Manampiring

Mungkin gambar 3 orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *