Iman

Kerohanian420 Views
Spread the love

Selamat pagi semua saudara dalam Kristus.
Iman hanya membutuhkan sedikit sampah dunia untuk menunaikan perjalanan musafirnya di dunia ini.

4JULI

Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Filipi 4:11

Ada karang-karang dan rawa pasir hisap yang harus dihindari secara maksimal oleh iman:

(1) Waspadailah kekhawatiran yang merusak (Flp.4:6). Allah yang memberi makan burung pipit akan mencukupi kebutuhan kita.

(2) Hati-hati terhadap nasihat duniawi, dan jangan mengandalkan manusia atau bantuan yang bersifat kedagingan.

Mencari kelepasan dengan melawan hukum dapat disamakan dengan memancing menggunakan kail emas tetapi hanya berhasil menangkap bangkai ikan; tubuh mungkin terpelihara, tetapi membinasakan jiwa.

(3) Jangan membatasi Yang Kudus dari lsrael dengan satu cara kelepasan belaka.

Naaman menginginkan Nabi Elisa menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit [kusta] itu untuk menyembuhkannya [2Raj.5:11]

(4) Awasi ketidaksabaran yang menimbulkan kerewelan, keluh kesah, dan perbantahan melawan pengaturan Allah.

Inilah batu besar yang menjadi sandungan Yunus yang malang: kemarahannya yang begitu besar karena pohon jarak yang mengering.

(5) Jangan meragukan kasih Allah ketika menderita. Hati Allah tidak dapat kita pahami sepenuhnya tanpa salah jika kita menilai dari tindakan-Nya semata.

Iman kerap kali justru menemukan kasih di hati Allah meskipun yang terlihat di keningNya kernyitan belaka.

Batu pemberat iman bergerak dalam aliran arus yang berbeda.

Iman mengalir dalam arus rasa cukup (FIp. 4:11) dan kerendahan hati.

Kerendahan hati menenangkan jiwa dan membuatnya selamat menunggangi badai.

Kesombongan membengkakkan hati dan menyebabkan hati tidak sanggup menahan beban sekecil apa pun.

Iman juga mengalir dalam arus pemikiran sorgawi. Iman mengecap dan mengarahkan afeksinya pada perkara yang di atas.

Iman yang dipengaruhi oleh pemikiran sorgawi, terbang tinggi dan mampu memandang melampaui bintang-bintang.

Iman hanya membutuhkan sedikit sampah dunia untuk menunaikan perjalanan musafirnya di dunia ini.

Iman memandang pada “tangan sorga” dalam semua peristiwa hidupnya.

Iman memandang melampaui hingga menjangkau isi hati Allah. “Allah yang mengambil,” kata Ayub, Allah senantiasa bertindak atas dasar kasih, yang mana tujuan akhir pengaturan-Nya senantiasa demi kebaikan para orang kudus-Nya.

Iman berpusatkan pada kemuliaan di masa mendatang. Kristus menjalani salib menuju sorga;
demikianlah seharusnya semua orang percaya.

Pikullah salib hari ini, terimalah mahkota kehidupan di hari esok (Yak. 1:12).

Thomas Lye (1621-1684), Puritan Sermons 1659-1689, I:392-400

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *