Kekudusan Hidup

Kerohanian133 Views
Spread the love

Selamat pagi semua saudara dalam Kristus.
Kekudusan hidup mencakup ketaatan kita yang nyata kepada Allah sesuai dengan apa yang diwahyukan Firman-Nya.

11 JUNI

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
Mazmur 119:105

Ada prinsip ilahi yang melampaui akal terukir di dalam kita yang telah lahir baru yang memampukan jiwa menjalankan kewajiban hidup kudus.

Kita tidak dapat mempelajarinya; Allah semata sang pengajarnya. Keindahan dan kemuliaan kekudusan sesungguhnya mustahil diekspresikan.

Hal ini mencakup keselarasan dengan Allah, keserupaan dengan Kristus, kepatuhan kepada Roh Kudus, kepedulian terhadap keluarga Allah, pertalian dengan para malaikat, dan perceraian dengan kegelapan dan dunia ini.

Kekudusan hidup mencakup ketaatan kita yang nyata kepada Allah sesuai dengan apa yang diwahyukan Firman-Nya.

Sudah tentu, Firman Allah merupakan satu-satunya aturan yang memadai bagi semua ketaatan yang kudus.

Hal ini tidak akan ditemukan di dalam imajinasi atau kecondongan kita.

Semua yang diperintahkan Firman wajib kita taati, dan selain itu tidak ada yang mengikat.

Dengan ketat kita diarahkan untuk tidak menambah atau menguranginya. Kita tidak hanya wajib melaksanakan apa yang diperintahkan, melainkan wajib melaksanakan semua perintah, itulah seluruh kewajiban kita.

Jika tidak diperintahkan, itu bukanlah bagian dari ketaatan kita.

Terang natur alami yang masih tersisa di dalam kita dapat mengarahkan kita kepada yang baik dan yang jahat dari moralitas, tetapi terang ini harus tunduk di bawah otoritas Firman dan terang ini bukanlah standar baku dari kekudusan Injil.

Hukum yang ditulis oleh anugerah di dalam hati kita harus sejalan dengan hukum tertulis Firnan Allah.

Allah telah berjanji bahwa Roh dan Fiman-Nya akan saling mendampingi senantiasa.

Roh Kudus tidak akan berkarya di dalam kita sebelum Firman terlebih dulu menuntut ketaatan kita.

Semua karya internal jiwa kita harus berpedoman pada Firman.

Firman merupakan aturan satu-satunya dari kekudusan kita. Siapa diri kita dan apa yang kita lakukan, semua harus dapat dipertanggungjawabkan terhadap Firman Allah; dan sejauh itulah kita menjadi kudus dan sejauh itu saja.

Apa pun tindakan pengabdian atau kewajiban moral yang kita lakukan, semua hanyalah bagian dari proses pengudusan kita apabila semua itu selaras dengan Firman Allah.

John Owen (1616-1683), Works, III:469-471

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *