Kesia-siaan belaka

Kerohanian275 Views
Spread the love

Selamat pagi semua saudara dalam Kristus.
Sesungguhnya, dunia ini hanya terlihat indah, namun pada hakikatnya tidaklah demikian.
Betapa sia-sianya dunia saat kematian menjelang!

17 APRIL

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
Pengkhotbah 1:2

Ayat ini berisi penilaian yang jitu tentang segala sesuatu di bawah matahari.

Hasrat terbesar kita adalah kebahagiaan, dan kebodohan terbesar kita adalah berpikir bahwa kita bisa memperolehnya dengan menikmati segala kesenangan dunia ini.

Alasan inilah yang membuat manusia mengejar kesenangan, menimbun kekayaan, dan mengincar tanda kehormatan dan pangkat karena mereka percaya bahwa hal-hal ini dapat membuat mereka benar-benar bahagia.

Tetapi hal ini sama dengan mencari yang hidup di antara yang mati.

Semua itu laksana kolam bocor yang tidak dapat menampung air hidup.

Di dalam khayalan sesat kita, kita melihat semua hal itu sebagai yang mantap, abadi, dan memuaskan.

Kita menganggap semua itu sebagai sasaran kita, padahal semua itu hanyalah sarana untuk digunakan selama perjalanan musafir kita.

Kita terlalu banyak berharap dari apa yang sesungguhnya dapat dihasil kan oleh semua itu, dan dengan demikian masalah kesia-siaan bukanlah terletak di dalam objeknya tetapi lebih di dalam hasrat pengejaran kita.

Menikmati sesuatu berarti memegangnya dengan erat dengan kasih demi kebaikan hal itu sendiri.
Penikmatan ini seharusnya hanya dimiliki oleh Allah.

Kita sepatutnya memakai apa pun dari dunia ini demi membawa kita kepada Sang Pencipta.

Kita boleh menggunakan apa pun yang memberi kita manfaat tetapi kita sepatutnya hanya menikmati Sang Pencipta saja.

Bukankah emas dan perak itu tidak lain dari bentuk lain dari tanah, yaitu tanah liat keras yang berkilauan?

Minyak wangi yang paling harum hanyalah keringat lembab tumbuh-tumbuhan.

Sutra terhalus hanyalah hasil buangan dari seekor ulat yang kotor.

Minuman anggur yang paling mahal bukan apa-apa selain air kubangan dari hasil saringan buah anggur.

Makanan terlezat yang kita buru ternyata hasil dari debu tanah, yang diolah dan dihidangkan menurut selera kita.

Khayalan dan adat istiadat atau kebiasaan telah bersekongkol untuk menipu kita.

Sesungguhnya, dunia ini hanya terlihat indah, namun pada hakikatnya tidaklah demikian.
Betapa sia-sianya dunia saat kematian menjelang!

Kesenangan-kesenangan dunia ini juga tidak dapat membebaskan kita dari beban kekhawatiran sehari-hari dan salib yang harus kita pikul.

Hanya di dalam Dia kita dapat menemukan perhentian dan kepuasan sejati. Mariah kita menyerah kan kekhawatiran dan beban berat kita kepada Dia yang telah berjanji untuk menopang kita.

Marilah kita mengubah aliran arus keinginan kita menuju sorga, di sana sajalah kita dapat menemukan segala sesuatu yang abadi dan memuaskan.

Marilah kita menjalani hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Ezekiel Hopkins (1633-1690), Works, I:14-50

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *